Tampilkan postingan dengan label Makanan Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Organik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2008

Apakah Makanan Organik Itu?

Apakah Makanan Organik Itu?

Apa Makanan Organik itu? Perkataan 'organik' sebenarnya bermaksud 'berasal dari tanah'. Singkatnya, membawa arti 'asli, alami, tidak tercemar dan lain-lain', yaitu sifat-sifat produk pertanian yang dapat digunakan setiap hari. Beberapa contoh produk organik termasuk sayur-sayuran, vitamin, pasta gigi, sabun, sabun cuci dan lain sebagainya. Bapak teori organik, Dr.Henry Chang, menyatakan bahwa "makanan organik" berarti seluruh produk pertanian yang bebas dari pupuk kimia, bahan kimia atau bahan tambahan sejak permulaan, yaitu seluruhnya alami. Beberapa contoh cara-cara bertani tersebut termasuk membajak tanah secara tradisional, menggunakan pupuk alami atau tanah yang memang subur, atau memasukkan cacing ke dalam tanah untuk menggemburkan tanah melalui kegiatan penggalian lubang yang alami. Hal ini menyebabkan tanah dioksidasikan, sehingga meminimalkan pencemaran tanah, udara, dan air di kawasan tanah tersebut. Walaupun pupuk-pupuk kimia dapat membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas tanah dan selanjutnya memberikan hasil yang lebih baik, namun hasil tersebut hanya indah dipandang tanpa banyak manfaat. Produk-produk hasil pertanian bahan kimia tersebut, mungkin banyak mengandung air yang mempengaruhi rasa asli sayur-sayuran atau kualitas makanan tumbuh-tumbuhan itu.Peternakan hewan secara organik juga dimulai dengan pemberian makanan organik. Makanan-makanan tersebut bebas dari hormon pertumbuhan, dan hewan ternak juga tidak perlu disuntik dengan hormon tambahan lain. Misalnya jika sapi penghasil susu diternak di padang rumput organik, maka susu dan daging yang dihasilkan juga dikategorikan sebagai produk organik. Siapa saja yang pernah memakan daging ayam "kampung" tentu saja berpendapat bahwa daging ayam tersebut lebih sedap dibandingkan dengan daging ayam yang berasal dari peternakan komersil. Oleh karena itu, Dr.Henry Chang yakin bahwa umur manusia dapat mencapai 100 tahun, tetapi sebagian besar manusia tidak dapat berumur panjang karena makanan mereka mengandung terlalu banyak bahan kimia. Hal ini mempengaruhi fungsi-fungsi sistem kekebalan mereka, sehingga mengakibatkan tekanan darah tinggi, kanker darah (leukimia) serta penyakit-penyakit masa kini lainnya. Pada dasarnya banyak negara di dunia telah setuju untuk menuju ke arah mencipta sebuah "bumi organik". Jika makanan organik menjadi popular di seluruh dunia, sehingga dapat mengubah kebiasaan makan dan minum kita, maka tujuan ideal "hidup sehat", panjang umur memang bukan hanya impian. Manfaat beberapa jenis bahan pangan organik untuk kesehatan:

* Alpukat: baik untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan sel.

* Bawang putih: antikolesterol dan penuaan dini.

* Bawang merah: membantu pencegahan kanker perut.

* Bayam: baik untuk kesehatan otak dan kesehatan penglihatan.

* Buah berry: mencegah infeksi pada prostat dan saluran kencing.

* Brokoli: membantu tubuh membuang bahan-bahan bersifat karsinogen.

* Kol: bermanfaat bagi pencegahan kanker usus, perut dan payudara

* Tomat: membantu pencegahan kanker rahim, pankreas dan usus.

* Wortel: mencegah penuaan dini.

Manfaat makanan organik

* Bekerja membersihkan darah.

* Membuang racun yang menumpuk dalam sel.

* Membantu regenerasi sel-sel baru.

* Menjaga keseimbangan kadar asam basa tanpa obat-obatan, vitamin atau pun suplemen tambahan.

Kelebihan makanan organik

* Memiliki kandungan gizi yang lebih baik. Makanan organik rata-rata mempunyai kandungan vitamin C, mineral, serta phytonutrients (bahan dalam tanaman yang dapat melawan kanker) yang lebih tinggi ketimbang bahan pangan konvensional.

* Makanan organik lebih tahan lama hingga tidak mudah basi.

* Menghemat proses produksi dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan.

Bahaya makanan non organika.

a. Efek unsur dan pestisida yang terkandung dalam makanan:

* Menyebabkan gangguan kesadaran (cognitive dysfunction) seperti sulit mengeja, membaca, menulis, membedakan warna, termasuk berbicara.

* Memperbesar risiko terhadap gangguan fisik otak.

* Salah satu penyebab kanker payudara.

* Berpotensi menyebabkan masalah pada produksi sperma.

b. Ancaman pestisida bagi manusiaan.

* Mengancam generasi penerus. Anak-anak berpotensi terkena lebih banyak pestisida daripada orang dewasa.

* Pencemaran air tanah.

* Boros energi, banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk kimia daripada untuk mengolah dan memanen tanaman.

Tips mengonsumsi makanan Organik 

* Pilihlah sayuran, buah-buahan atau daging yang memang telah meiliki label yang jelas dan resmi.

* Cucilah sayur atau buah organik dengan air yang mengalir ( keran) beberapa kali, agar sayuran terhindar dari telur ulat.

* Rebuslah sayuran dengan suhu panas yang cukup. Sehingga dapat mematikan telur atau bakteri yang menempel. (berbagai sumber)

Bisnis Organik dan Konsultasi Kesehatan dan Kecantikan
Tips Hidup Sehat melilea
081-8844426 (Dewi)

Jumat, 08 Juni 2007

Makan Makanan Organik supaya Sehat



MEITY Pondaaga (57), pensiunan Citibank yang kini menjadi konsultan perbankan, sekitar empat tahun lalu mulai mengonsumsi sayuran organik.

Keputusan mencoba sayuran organik dipicu oleh tersedianya sayuran tersebut di sebuah toko swalayan. Sebelumnya dia sudah banyak membaca mengenai makanan organik dari majalah-majalah kesehatan asing.

APA yang masuk ke tubuh, semuanya ada efeknya. Obat saja ada efek sampingnya, bagaimana dengan makanan yang kita makan? (Itu) pakai pupuk apa, bahan kimia apa, pasti ada efeknya ke tubuh," kata Meity.

Apa yang kita makan katanya akan menentukan siapa kita. Ungkapan ini tentu saja tidak semata-mata menyangkut makanan apa yang kita makan, di mana kita makan, dan bagaimana kita memakan makanan itu. Pengaruh sangat jelas makanan adalah terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, dan sampai batas tertentu, kecantikan dan kemudaan kita.

Dengan alasan kesehatan itulah kini semakin banyak orang-setidaknya di Jakarta-yang sukarela mau merogoh kantong mereka untuk membeli makanan organik. Makanan itu juga semakin banyak ditawarkan di berbagai toko swalayan, bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksi secara organik.

Meity menyebutkan, alasan mengonsumsi sayur-mayur organik sejak empat tahun lalu adalah demi kesehatan. Ayah Meity menderita sakit jantung, sementara ibunya punya penyakit darah tinggi. Meity khawatir terkena penyakit yang bisa diturunkan itu dan sangat dipengaruhi gaya hidup, yaitu antara lain makanan yang dikonsumsi, karena kedua orangtuanya penggemar olahraga.

Alasan kesehatan pula yang membuat Ny Rosalinda (39), warga di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mulai mengonsumsi makanan organik sejak setengah tahun lalu setelah membaca artikel mengenai makanan ini di sebuah majalah kesehatan.

"Sayuran dikasih pestisida dan pupuk kimia, ayam dikasih antibiotik dan hormon, ada juga sapi edan (gila-Red), makanan kemasan pakai pewarna tekstil. Benar-benar mengerikan," kata Rosalinda yang menularkan kebiasaan barunya ini kepada dua anak dan suaminya.

Kesadaran untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik ini bukan cuma dilakukan individu-individu. Ny Traute Christa Ongkowijaya (50), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi semacam ketua kelompok dari para konsumen makanan organik yang anggotanya sekitar 15 orang. Setiap hari Jumat, sayuran organik dari perkebunan milik Pater Agatho, pelopor sayuran organik di Indonesia, dikirim ke rumahnya.

"Setiap Jumat anggota datang ke rumah saya untuk mengambil sayuran itu. Jenis macam-macam, apa saja yang sedang alam berikan. Yang penting aman," kata Ny Ongkowijaya.

Ny Ongkowijaya mengatakan, alasan kesehatanlah yang membuat dia mengonsumsi sayuran organik. Jakarta, kata dia, sudah sangat terpolusi. "Jakarta kan termasuk tiga kota yang paling terpolusi di dunia. Jadi, sedapat mungkin dari makanan kita tidak semakin mencemari tubuh," kata dia.

KESADARAN untuk mengonsumsi sayuran organik ini tidak terbatas pada mereka yang sudah berusia relatif lanjut. Ibu-ibu muda dari kalangan selebriti, seperti penyanyi Lusy Rahmawati (27) dan Melly Manuhutu (29), serta pembawa acara televisi Sophie Navita (29) juga mulai rajin mengonsumsi sayuran yang mereka yakini sehat itu.

Melly mulai berkenalan dengan sayuran organik karena kebetulan dia tinggal di kawasan Ciburial, Cisarua, Jawa Barat. Di tempat tinggalnya itu dia dengan mudah mendapatkan sayuran organik yang ditanam di kebun milik Pater Agatho.

Penyanyi yang pernah hamil tetapi kemudian keguguran itu memakan beragam sayuran organik, seperti wortel, bayam, selada, lobak, labu siam, tomat, selain ubi, dan pisang. Bahkan ayam dan telur pun dia pilih yang diproduksi secara organik.

Lain lagi alasan Lusy Rahmawati yang mulai mengonsumsi sayuran organik secara teratur setelah kelahiran anak pertamanya, Keitro Jose Purnomo, yang baru berumur satu tahun.

"Makanan organik terutama untuk anakku. Aku sendiri tidak terlalu strict. Untuk anak, aku usahain sedini mungkin tidak mengonsumsi makanan dengan campuran bahan pengawet," kata istri dari sutradara film Jose Purnomo.

Awalnya Lusy masih merasakan harga sayuran tersebut mahal sehingga dia terpaksa tidak sering membeli. Tetapi, begitu hamil dan melahirkan, Lusy mulai mengonsumsi sayuran organik yang dia kenal melalui tawaran di sebuah toko swalayan di dekat rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Alasan penyanyi ini karena sekarang banyak penyakit yang aneh-aneh. "Aku pikir, untuk anakku keluar biaya ekstra tidak apa-apa," papar Lusy.

Pengalaman Sophie Navita dengan sayuran organik juga berhubungan dengan kehamilannya dan ketika dia menyusui sendiri anaknya.

"Awalnya memang buat anak, tetapi akhirnya juga buat keluarga. Jadi, sekalian belanja," kata Navita yang istri dari Pongky, penyanyi kelompok musik Jikustik. "Entah sugesti atau apa, tetapi yang jelas saya merasa lebih segar dan badan lebih ringan setelah banyak mengonsumsi makanan organik," ujarnya.

Begitu juga pengusaha Setiawan Djody (55) mengaku mengonsumsi makanan organik. Dia bahkan mendukung pertanian organik melalui Yayasan Kantata yang dia dirikan 15 tahun lalu. "Saya tertarik dengan pertanian organik setelah bertemu dengan Romo Agatho. Saya kebetulan tertarik pada gaya hidup kembali ke alam," paparnya.

APA pun alasan yang disampaikan para konsumen makanan organik, entah dengan alasan kesehatan atau kembali ke alam, tetapi makanan organik meskipun perlahan semakin populer walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.

Untuk negara dengan peraturan ketat seperti Amerika Serikat (AS), mereka telah memberlakukan sebuah standar tentang apa yang disebut organik, yaitu makanan yang "100 persen organik" dan "organik" (untuk yang setidaknya 95 persen) diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, tanaman/hewan yang mengalami modifikasi genetis, atau radiasi untuk mematikan kuman (Newsweek, 30/9/2002).

Kesadaran untuk mengonsumsi makanan organik pun tidak selalu sama dari masa ke masa. Ketika budaya tandingan muncul di Barat pada tahun 1970-an-yang kemudian imbasnya juga terasa di Indonesia-konsumen mengambil makan organik sebagai sebuah identitas lebih karena alasan filosofis. Maksudnya, makanan menjadi cara mereka untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan, pilihan politik, bahkan spiritualitas mereka.

Akan tetapi, keadaan ini kini berbalik lebih menjadi alasan praktis, yaitu kesehatan tadi, meskipun di sini jumlah konsumennya masih dari kalangan terbatas mengingat harganya yang jauh lebih mahal tadi.

Alasan kesehatan ini pun masih menjadi pro dan kontra di negara maju seperti AS. Betul pestisida adalah racun yang dimaksudkan untuk membunuh hama penyakit yang mengganggu tanaman, dan antibiotik digunakan untuk menangkal serangan penyakit pada hewan ternak. Tetapi, mereka yang membela penggunaan teknologi-pupuk buatan, pestisida, pangan hasil modifikasi genetika-mengatakan bahwa bahaya utama datang dari bakteri seperti E coli yang terdapat pada kotoran sapi yang menjadi pupuk tanaman organik.

Namun, yang tidak dapat dimungkiri adalah semakin intensifnya penggunaan pestisida dan antibiotik pada pertanian konvensional-pertanian dengan asupan teknologi modern menjadi konvensional dibandingkan dengan pertanian organik yang sebelum munculnya Revolusi Hijau tahun 1960-an dengan teknologi modernnya adalah pertanian konvensional itu sendiri-karena munculnya masalah antara lain hama penyakit yang kebal terhadap pestisida yang ada sampai jenuhnya tanah karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus sepanjang tahun.

Untuk lingkungan, pertanian organik dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan karena dia mengambil apa yang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam seraya menjaga keragaman hayati karena tidak perlu membunuh makhluk hidup-apakah dia kutu atau serangga pemakan sayuran-secara berlebihan karena penggunaan musuh alami atau pestisida dari bahan tanaman sendiri.

Dan apabila konsumen sekarang memilih makanan organik karena alasan kesehatan, itu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.

Buat Ny Meity, keyakinan bahwa makanan organik yang dia konsumsi membuatnya lebih sehat adalah hal yang terpenting. "Saya sekarang juga tidak pernah sakit yang berat- berat, paling-paling hanya flu. Tetapi, secara umum saya suka makanan organik karena merasa safe saja," kata Meity.

Soal harga yang bisa 3-4 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga sayuran konvensional, Meity melihat itu sebagai harga yang wajar dibayar. Kata Meity, "Daripada beli obat? Ke dokter (kalau sakit), sudah badan kita tersiksa, keluar uang banyak, badan kita kemasukan masih bahan-bahan kimia juga."